Friday, June 22, 2012

AQUILA Game Reserve - South Africa

Jika anda sedang berlibur di Capetown (Afika Selatan), dengan syarat masih ada sisa hari dan hampir semua tempat-tempat turis terbaik di Capetown sudah dikunjungi, dengan syarat lagi bahwa anda tidak sempat meluangkan 2 hari untuk pergi Safari ke Kruger Park, apalagi anda punya uang lebih untuk di buang-buang, maka boleh juga di perhitungkan tempat ini,  AQUILA Game Reserve.


The cottage


Luxury cottage


Aquila Game reserve ini adalah sebuah safari kecil-kecilan milik 

prifat di sebuah lahan sebesar 7500, lahan yang di kelilingi bukit-bukit layaknya di Afrika, dimana menyuguhkan pemandangan indah. Di Aquila Game reserve ini terdapat penginapan resort bermodel cottage. Membuat orang yang menginap merasakan keindahan alam Afrika dengan suguhan di otak bahwa mereka tidur di alam liar, dengan binatang-binatang liar disekitar nya, melainkan tidak sama sekali!

Aquila resort ini di kelilingi pagar berkawat dimana hewan-hewan yang hanya beberapa ekor saja itu tidak dapat masuk kedalam. Sebentar.... saya belum bercerita tentang hewan-hewan nya, mari bercerita tentang resort nya dulu. Resort ini mempunyai kamar-kamar yang luar biasa mahal, mempunyai restaurant dan kolam renang, cukup baik dan sangat bersih mengingat tempat ini memang jauh dari peradaban. Dalam satu cottage dapat memuat 2 sampai 4 orang, cottage-cottage yang katanya luxury karena saya sendiri belum pernah masuk jadi tidak tahu persis seperti apa didalamnya.





Untuk datang ke Aquila Safari ini anda harus membooking dulu sebelumnya, kami membooking lewat online, maka akan ada pilihan, apakah hanya safari saja, atau termasuk menginap. Kami memilih hanya safari paket saja, dimana paket tersebut sudah termasuk makan siang. Biaya untuk melakukan safari 4 jam dan makan siang ini untuk kami berempat, saya, suami dan anak-anak  sebesar $500 Amerika.

Perjalanan ke Aquila resort memakan waktu kira-kira 1.5 jam dari Capetown, untuk tiba disana jam 8 pagi, kami setidaknya harus sudah berangkat dari apartemen yang kami sewa jam 6 pagi. Sampai di resort ini yang resort nya berbentuk hut atau kubuh layaknya rumah-rumah khas Afrika, kami di beri refreshment drinks, ada minuman soda, juices, sampai sparkling wine dari South Africa.











Kami di beri waktu kira-kira setengah jam untuk istirahat dan menggunakan toilet sambil menimati keindahan resort. Kemudian ketika semua para tamu sudah berkumpul kami pun naik ke truk safari, pagi itu ada beberapa truk-truk yang penuh dengan pengunjung. Tidak pantas sebetulnya menyebut nya Safari, saya merasa dibohongi, buat Aquila ini cocoknya dinamakan Open air zoo. Lah wong binatang nya dikasih makan, ada pulak yang berkandang! Di salah satu lapangan ada sekelompok Rhyno atau kita sebut Badak bercula, yang sedang berjemur, semuanya tergeletak tidak bergerak, hanya bernafas saja.

Kemudian tak jauh dari situ ada kubangan air berisi beberapa Hyppo atau kuda nil yang sedang mandi. Kemudian truk melaju lagi ke area yg ada gajahnya, hanya ada dua ekor gajah afrika saja, itupun masih anak-anak, jadi ukurannya masih sama dengan gajah kita. Lalu truk tersebut berhenti untuk 'break' di satu area yang ada pohon-pohon disekitarnya jadi agak rindang, kami pun berhenti dan disuguhi lagi refreshment drinks. Setelah itu kami menuju ke arah lain dan melihat dari jauh dua ekor jerapah, saking jauhnya banyak orang yang tidak bisa melihat, saya saja yang sudah menggunakan lensa 300 mm masih susah dapat.

Di bawah ini adalah binatang-binatang (yang seharus nya hidup di alam liar) yang bisa anda lihat, Foto-foto zoom saya menggunakan lensa 300mm.



Dari sini kami menuju ke tempat dimana para Zebra ngumpul, ada juga burung ostrich dan kerbau, di tempat ini lah mereka diberi makan dengan tumpukan rumput segar. Jadi jelas saja zebranya gemuk-gemuk, wong dikasi makan! Kemudian kami meninggalakan area itu dan menuju area yang sedikit agak jauh dan dikelilingi pagar listrik!disitulah ada kandang singa, dan kami melihat 2 ekor singa jantan dan beberapa singa betina tergolek-golek, tidur, dan malas-malasan, disudut kadang saya melihat seonggok daging segar yang tak habis, kandang cheetah pun sama, para cheetah tertidyr pulas, sungguh kecewa melihat nya, ngapain jauh-jauh datang ke afrika, di taman safari juga saya bisa lihat yang beginian, semua binatang yang ada disini pemalas! Persis di kebun binatang, tergolek-golek dan tertidur! Lari saja mungkin mereka tak mampu.












Tentu saja penonton kecewa, kami membayar $500 untuk pergi ke kebun binatang, dan kembali ke resort untuk makan siang ala buffet, menu nya menu Afrika, terdiri dari beberapa jenis salad dan sayuran, nasi dan lauk pauk, dan rasa hmmmm, lumayan, tidak ada istimewa nya, apalagi jika sedang lapar dari melihat binatang selama 2 jam! Lebih enak lagi makan nasi padang! Kalo makan di warung padang sudah berapa kampung bisa diajak? Hahahahhah Jadi comment terakhir, Aquila ini sangat mahal dan tidak worth it!

Saturday, June 16, 2012

Sultanate of Oman (Kesultanan Oman)

Banyak pembicaraan seperti ini terjadi kepada penghuni kota Muscat - Oman.

"Sekarang tinggal dimana?'
"Muscat"
'What? Moscow?'
'No, Muscat in Oman'
'Amman?'
'...............



 Al Mughsayl Beach - Salalah - Dhofar (Oman)



Memang banyak yang tidak tahu tentang Muscat atau 
Oman. Saya saja tidak tahu Oman sampai saya betul-betul menginjak tanah nya. Harus diakui bahwa Oman adalah negara paling indah di Arab, paling hijau. Oman memiliki pantai-pantai yang indah, panjang dan berpasir putih, memiliki pemandangan spektakuler pegunungan-pegunungan batu raksasa, yang mengalir berliku-liku wadi-wadi (sungai-sungai) bagaikan ular diantara nya, wadi-wadi berair jernih transparant bagaikan kristal, padang pasir yang tak kalah dari padang pasir negara arab lainnya, kota Muscat yang kecil dan indah, aman dan ramah, membuat sulit untuk melupakan Oman jika sudah menginjak tanah nya.


Oman yang bernama resmi Kesultanan Oman dan dipimpin oleh seorang Sultan yang dicintai oleh rakyat Oman, Sultan Qaboos bin Said Al Said,  berbatasan darat dengan Uni Arab Emirat, Arab Saudi dan Yaman. Oman terletak di Pesisir Laut yaitu laut Arab di tenggara dan Teluk Oman di timur-laut. Bagian dari negara Oman juga yaitu Enklave Mahda dan Musandam dikelilingi oleh UEA di perbatasan daratnya, dengan Selat Hormuz dan Teluk Oman membentuk perbatasan pantai Musandam.




Muscat



Nizwa

Bahasa sehari-hari penduduk lokal adalah Arab tetapi bahasa Inggris dijumpai dimana-mana. Walau penduduk lokal 100% beragama Islam, Oman adalah salah satu negara Arab yang paling kuat toleransi beragamanya. Beberapa hotel bintang 5 pun dapat dijumpai di kota Muscat dan Salalah (1000km dari Oman dan berbatasan dengan Yaman). Club-club juga ada di setiap hotel-hotel, baik hotel berbintang maupun tidak.



Sawady Beach


Sunset at Shifa beach



Khareej (rain) season in Salalah






Oman adalah salah satu negara paling 
berkembang dan paling stabil di dunia Arab yang kaya dengan hasil minyaknya yang bertumpah ruah, bayangkan negara yang penduduk lokal nya hanya 2 juta orang saja dan sekitar 800.000 orang asing ini memiliki minyak yang meluap-luap dari dasar tanahnya. Tak heran jika di temui banyak konstruksi-konstruksi megah di negara ini.



Sultan Qaboos Grand Mosque - Muscat


Muttrah - Muscat



Al Bustan Palace


Walau iklim Oman sungguh tragis pada saat musim panas, dimana Juni adalah saat dimana Oman memiliki suhu paling panas hingga melebihi 50 derajat celcius, tapi musim dinginnya adalah bagaikan surga, saat Oman tak terlalu panas akan ditemukan semua penduduk Oman akan melakukan camping di wadi-wadi, terjun dan mandi di kolam-kolam Wadi yang transparant,  atau berenang dan sun bathing di pantai, atau sekedar piknik atau offroad di padang pasir nya, offroad di wadi-wadi sampai batuan terjal, menikmati sunset di pantai atau padang pasir sambil Barbeque.

Saya dan keluarga tiba di Oman bulan Desember 2010, dan detik, menit, jam dan hari-hari selama 2.5 tahun di Muscat terasa nikmat. Kenangan-kenangan tentang Oman yang seperti mimpi indah tak akan bisa terlupakan, berharap suatu hari nanti akan menginjak lagi tanah nya....





Wadi Bani Khalid



PDO beach

*Untuk membaca kisah-kisah tentang Oman lebih lanjut, silahkan klik kolom 'OMAN' di list negara2 di sebelah kanan.

Thursday, June 7, 2012

Desa Bena, peninggalan nenek moyang yg masih tersisa



Desa Bena tampak dari atas perbukitan. (lens 300mm)

Untuk kesekian kali nya saya jatuh cinta, jatuh cinta pada desa Bena, kampung adat yang masih tersisa di Flores, hanya satu dari dua atau tiga saja mungkin. Desa Bena terletak di sebelah selatan kota Bajawa kabupaten Ngada - Flores. Desa yang berada di dekat gunung Inerie dan dilingkari oleh pegunungan-pegunungan disekitar nya, satu-satunya kampung yang berada disana. Untuk menuju ke kampung ini kami harus menmpuh jalan meliuk-liuk keatas gunung, di suguhkan pemandangan yang indah bagaikan lukisan.




BENA VILLAGE


Ada 9 suku di desa Bena ini, awal nya malah hanya satu suku saja, suku Ngada adalah suku asli desa ini, sampai akhirnya terjadi perkawinan dengan suku lain hingga kini terdapat 9 suku di desa ini. Saya (dengan bangga) ditemani salah satu kepala suku untuk berkeliling kampung Bena dan mendengarkan penjelasan beliau tentang sejarah kampung Bena. Hanya ada sekitar 20 an rumah berbaris membentuk letter U. Mengelilingi halaman besar yang berisikan kuburan-kuburan, baik yang umur nya sudah tua maupun yang baru, terdapat juga kubuh-kubuh berukir yang dipakai untuk acara pesta adat.



Penduduk desa Bena menenun kain dan di jual di depan rumah-rumah mereka



Uniknya desa Bena ini yaitu mereka masih menjaga turunan leluhur nya, yang terlihat dari bangunan Megalitik berupa susunan batu-batuan ceper disusun secara vertikal, beliau menjelaskan itu adalah kuburan leluhur mereka yang sudah berumur ribuan tahun, sampai keadaan rumah-rumah nya masih unik, terbuat dari alang-alang, kayu dan bambu. Pak kepala suku menceritakan tentang arti-arti pahatan-pahatan kayu yang terukir di seluruh bangunan desa Bena, payung sebagai simbol laki-laki, dan rumah sebagai simbol perempuan. Di beberapa atap rumah terlihat hiasan  boneka yang memegang anak panah yang merupakan simbol bahwa rumah tersebut adalah milik dari keluarga garis laki - laki penduduk asli kampung ini, yaitu Suku Ngada. Sedangkan rumah yang dihiasi rumah - rumahan kecil di atas atapnya, merupakan simbol bahwa rumah tersebut milik dari keluarga garis perempuan suku asli.




Batu Megalitik, kuburan leluhur







Kelapa kopra

Penduduk desa yang sangat kecil ini hidup dalam kerukunan dan kekeluargaan. Penduduk perempuan membuat kain kain tenun dengan tangan di depan rumah masing-masing dan digantung2 di depan rumah - rumah, berharap turis membeli nya, kain-kain ini tidak mahal, kain yang kecil untuk syal hanya 50 ribu rupiah, dan mereka tidak berteriak-teriak memanggil-manggil pembeli seperti yang biasa terjadi di Bali, sehingga turis merasa terganggu, jika di beli sukuurrr kalo ngga juga ngga apa2, begitu kayaknya motto nya. Walaupun penduduk masih mempercayai roh leluhur nya mereka mulai mempelajari agama Katholik yang di pimpin oleh seorang pendeta yang datang dari Bajawa beberapa waktu sekali.






Sang bapak kepala suku mengatakan betapa sedih nya membayangkan bahwa desa Bena mungkin tidak akan bertahan lama mengingat generasi baru kampung tersebut mulai tidak perduli lagi dengan adat istiadat Bena, generasi baru sudah sekolah di luar dan tidak mau tinggal di kampung Bena. Sungguh tragis rasanya jika desa Bena benar2 akan hilang.. Pak kepala suku bertanya dimana saya tinggal, ketika saya bilang Angola beliau mengambil Globe dari plastik yang digantung di depan rumah pos paling ujung desa, beliau ingin saya menunjuk di bola tsb dimana letak Angola. Beliau pun menuliskan alamat lengkap untuk saya kirim kartu pos dari Angola. Sungguh manis.... 

Friday, December 23, 2011

Christmas and New year break to Italy





Yihaaa, akhir nya December telah tiba, artinya musim salju, pohon-pohon natal, dan kemeriahan perayaan tahun baru akan terasa dimana-mana.

Kami akan berangkat menuju Eropa bagian Italy nya hehe. Kabar nya susah mencari salju disana, anak-anak sudah tak sabar mau berdingin-dingin ria, dan membayangkan meremas salju dingin di tangan nya.

Jacket-jacket dingin, peralatan baju-baju musim dingin sudah siap, peralatan kamera dan lensa siap, Malaria travel kits juga sudah siap. Sebagai penduduk di negara Afrika yang terkenal dengan Malaria nya, kami diwajibkan membawa Malaria test kit buat berjaga-jaga kemanapun kami pergi keluar Angola, just in case kena Malaria di negara orang kita bisa mengobati sendiri.

 Saya mengucapkan Selamat natal, dan tahun baru 2012 kepada teman-teman. Semoga tahun yang akan datang akan lebih baik lagi. Happy holiday!

Sunday, December 4, 2011

Komodo Dragons - Flores NTT - Indonesia

" Yuk, jalan-jalan di Indonesia...."


Seperti kata pepatah favorite saya yang mengatakan, "Perjalanan  panjang itu harus dimulai dengan satu langkah". Nah, ada baiknya juga jika kita mendatangi tempat wisata yang dekat-dekat dulu sebelum pergi ke tempat yang jauh-jauh'. Contoh nya, negeri kita sendiri! Keinginan saya untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di Indonesia justru bertambah kuat sejak saya tinggal di luar Indonesia. Salah satu nya karena merasa malu pada diri sendiri, bisa menjelaskan tempat2 di luar negri tapiiii di negara sendiri malah O'on (Blo'on) :D Orang-orang bule malah lebih tau dari pada kita sendiri. Mengunjungi pulau Komodo sudah sejak lama saya impi-impikan, setelah otak saya di racuni oleh seorang teman ketika kami sama-sama tinggal di Cairo - Mesir, beliau menceritakan tentang perjalanan nya dgn suami nya di pulau Komodo. Sejak saat itu Komodo selalu menjadi salah satu cita-cita saya untuk tujuan liburan di Indonesia.

Saya dan suami mengambil tur 8 hari mengunjungi pulau Flores, dari barat ke timur, dan Komodo island adalah salah satu dari jadwal tur kami. Rute penerbangan yang kami ambil dari Jakarta ke Denpasar, lalu dari Denpasar ke Labuhan Bajo dengan pesawat Lion (jangan harap ada burung Garuda yang terbang kesana). Pesawat yang menuju Labuan bajo hanya ada 2 atau 3 masakapai penerbangan saja, Lion dan Merpati yang kami pakai untuk pergi dan pulang.

Dari Labuhan Bajo kami harus menginap satu malam di salah satu hotel, lumayan bagus hotel nya untuk ukuran kampung nelayan seperti Labuhan bajo. Esok pagi nya kami di jemput oleh tur guide  untuk di bawa ke kapal pribadi (artinya hanya kami beruda lah penumpangnya), sedang juga ukuran kapalnya, dan yang paling penting kapalnya lumayan bersih. Ingat, di Flores agak-agak susah untuk dapat kapal atau hotel Luxury. Kapal yang kami naiki ini  memiliki 1 kabin dengan dua tempat tidur kecil (tingkat) untuk saya dan suami, sebuah dapur di belakang, 1 buah kamar mandi lengkap dengan wc duduk, didalam kapal tersebut ada 3 org awak kapal (kapten dan 2 org kru yang selalu membantunya) dan guide kami (pak Gusti) yang akan menemani kami selama 8 hari di Flores nanti nya setelah kembali dr Komodo tur ini. Jadi total ada 6 orang di kapal yang kru-kru nya sangat ramah, lucu dan benar2 menjadi teman selama dalam perjalanan kami ke pulau Komodo.

Jadwal perjalanan yang akan kami lakukan adalah :

- Berhenti di pulau Rinca (Trekking untuk mencari Komodo)
- Makan siang di Kapal (Kru kapal akan menyediakan makanan)
- Snorkeling di sebuah pantai dekat pulau Rinca
- Bermalam di pulau Kalong (Makan malam di kapal)
- Esok pagi nya menuju pulau Komodo (makan pagi di kapal)
- Snorkeling di Pink beach
- Makan siang di kapal
- Selesai ( Berlayar menuju Labuhan Bajo)



Kapal tsb membutuhkan waktu 6 jam berlayar ke pulau Rinca dari Labuhan Bajo, jika mau yang lebih cepat bisa juga menyewa speed boat, tapi memang kami mau tur yang santai - santai saja. Selama perjalanan menuju pulau Rinca kami benar-benar disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah, persis seperti pemandangan Wolfgang lake di Austria, hanya yang ini lebih bagus tentunya! Sampai-sampai saya bilang ke suami, ngapain jauh-jauh ke Austria untuk melihat pemandangan seperti ini? Kemudian selama perjalanan ada dua atau tiga kampung-kampung nelayan yang kami lewati, kampung-kampung yang berada di pedalaman ini menurut guide kami sudah berumur lama, penduduknya rata-rata nelayan, ada sekolah di kampung2 tsb tetapi hanya sampai SD saja. Puskesmas kabar nya ada, dan hanya ada satu bidan saja di satu kampung, bukan dokter.

Sampai di pulau Rinca kami akan melakukan trek untuk mencari Komodo, ada dua macam trekking yang bisa dipilih, trekking pendek (2 jam) dan trekking panjang (4 jam). Mengingat waktu kami juga tidak banyak dan saya bukan lah termasuk org yang bisa trekking beneran, kami hanya mengambil trek pendek dua jam saja.
Menemukan Komodo di hutan pulau Rinca ini seperti mencari jarum dalam jerami, karena buruknya lagi waktu kedatangan kami adalah waktu yg tidak tepat untuk melihat Komodo, bulan Juli 2011 kemarin itu rupanya 'Mating Season' nya (musim kawin) untuk para Komodo, menurut Ranger yang mengawali kami, para Komodo sudah naik ke atas-atas gunung, bukit-bukit untuk kawin. Jadi kalo kami bisa melihat seekor saja artinya sudah untung.

Selama dua jam trekking kami tidak melihat seekor pun Komodo, bayangan nya saja pun tidak lihat, saya sampai bertanya, apa benar2 ada Komodo disini? :D Untung saja akhir nya kami bisa melihat beberapa Komodo yang parkir di bawah rumah-rumah panggung milik Ranger, Komodo-komodo yang turun dari bukit-bukit menuju rumah - rumah Ranger ini dikarenakan lapar menurut mereka, jadi Komodo-komodo yg bisa mencium bau-bauan (dari masakan dapur) sejauh 3 km ini pun turun dan parkir disitu menunggu di kasih makan.

Tapi itu menurut si Ranger, yang memang tidak salah informasi nya bahwa komodo2 tsb bisa mencium bau-baun dari kampung lalu turun untuk mencari makanan, tapi saya rasa sekarang keadaan nya lain, si Komodo2 ini memang dikasi makan sama para ranger itu supaya datang lagi besok nya persis seperti kucing atau anjing, tujuan nya agak para turis yang datang ke pulau ini bisa di obati rasa kecewa nya jika sudah jauh-jauh datang kesini tidak menjumpai komodo sebiji pun. Jadi teman-teman jika anda ingin melihat Komodo jangan khawatir untuk kemungkinan tdk menemukan komodo, dibawah rumah-rumah rangers tsb selalu ada komodo - komodo parkir! hahaha lumayan banyak jumlah nya, mungkin sekitar 10 an ekor.




Komodo yang paling banyak jumlah nya hanya ada di dua pulau besar yaitu Pulau Rinca dan pulau Komodo, di perkirakan ada sekitar 1500 komodo di masing-masing pulau. Kesempatan untuk menjumpai Komodo lebih mudah ketika berada di pulau Rinca, karena pulau nya yang lebih kecil hingga lebih mudah untuk melihat Komodo. Jumlah keseluruhan Komodo hanya 3000 ekor yang di pertahan kan dan dilindungi oleh negara sampai sekarang, maka pulau Rinca dan Komodo disebut Komodo National Park.

Komodo adalah hewan purba yang hanya eksis di Indonesia. Hewan menakutkan ini berat nya dapat mencapai 70kg - 100 kg dengan panjang mencapai 3 meter, persis seperti berat manusia, komodo-komodo kecil (anak) biasanya hidup diatas dahan - dahan pohon dan mereka dapat terbang dalam jarak dekat. Komodo mempunyai daya penciuman yang sangat tajam, dapat mencium bau - bau an sejauh 9 km, dan mampu berlari dgn kecepatan 20 km/ jam, bahkan berenang di air sejauh 300 - 500 meter. Naga asli Indonesia ini adalah binatang karnivora pemakan daging, mereka bahkan memangsa komodo-komodo lain nya jika terpaksa.

Komodo memiliki beberapa jenis bakteri mematikan dengan cepat di air ludah nya, gigi-gigi nya runcing dan berbelok seperti kail pancing mampu merobek robek mangsa, sehingga jika ia menggigit mangsa, maka mangsa tersebut akan sulit untuk lepas. Seekor komodo dapat memangsa kerbau besar hanya dengan menggigit nya lalu membiarkan mangsa pergi dan mengikuti dari jauh mangsa yang telah terinfeksi oleh bakteri dari ludah si komodo ini, mangsa akan mati dalam waktu kurang 1 minggu. Lalu kemudian komodo tersebut mendatangi mangsa nya dan melahap dengan merobek - robek mangsa tersebut, sampai ke tulang-tulang pun dimakan! Dasar Komodo!

Setelah keluar dari pulau Rinca, kami menuju kapal kecil kami, dan disana sudah disambut dengan hidangan makan siang diatas meja, berupa ikan, cumi-cumi goreng tepung, sayuran, tempe goreng, dan juice pisang coklat. Setelah saya tanya-tanya ternyata yang masak adalah kapten kapal yg baik hati dan pintar masak pula.

Setelah makan siang dikapal tersebut kamipun berangkat ke pantai yang tidak jauh dari pulau Rinca itu untuk melakukan snorkeling sebentar lalu kemudian berangkat ke Pulau Kalong untuk bermalam disana. Kalong yang arti nya kelelawar memang nama yang cocok untuk pulau itu karena banyak nya kelelawar disana. Pulau Kalong terletak persis di depan pulau Komodo, maka kami akan bermalam disitu dan berangkat ke Pulau Komodo esok pagi nya.  Malam itu kami menurunkan jangkar, dan ternyata banyak kapal-kapal yang bermalam disana juga, kapal - kapal turis seperti kami yang akan berangkat ke pulau Komodo keesokan hari nya. Beberapa kapal malah menghidupkan music di kapal, dan mereka mulai berdansa.

Sang kapten dan dua kru nya sibuk memasak di dapur, untuk melepas rasa bosan kami pun di suguhkan alat pancing oleh kru kapal, saya, suami dan guide kami pun mulai memancing. Mudah sekali memancing disana, tiap beberapa menit pasti dapat ikan, ikan nya pun ikan Kerapu pula, ukuran sedang, yang daging nya pasti manis dan lembut. Beberapa ikan kerapu kami antar ke dapur untuk di bakar.

Dari kejauhan kami melihat lampu-lampu menyala dari rumah-rumah sebuah kampung kecil di kaki pulau Komodo, dan beberapa sampan datang ke arah kami, ternyata beberapa penduduk kampung tersebut yang datang dan berjualan kain, mutiara dan kerajinan kayu imitasi Komodo, mereka mendatangi kapal-kapal satu persatu, mereka juga sangan ramah, jika ditolak dengan sopan mereka akan langsung pergi. Amboooiiii malam itu kami makan malam diatas kapal, makan ikan bakar dan ikan goreng hasil pancingan, ditambah menu-menu lain nya, diakhiri dengan kopi, saya rasa nya tak mau pulang.





Esok pagi nya kami berangkat ke pulau Komodo, yang lebih baik dan lebih terawat daripada pulau Rinca, kantor National park nya pun bagus, bersih, dan indah. Sang ranger pun datang dengan stick khas ranger Komodo dan sampai sekarang saya tidak mengerti kenapa para Ranger hanya bersenjatakan stick kayu untuk mengusir Komodo. Menurut mereka hal itu sudah lama sekali dilakukan sampai sekarang dan semua nya berjalan baik dan tak ada musibah.

Kami pun melakukan trek 2 jam, memasuki hutan yang didalam nya kami menjumpai banyak sekali babi hutan, rusa, ayam hutan, dan burung - burung bernyanyi-nyanyi diatas pohon. Binatang-binatang yang ada didalam hutan tersebut memang liar dan itulah yang akan menjadi makanan Komodo. Pemberian makan Komodo dihentikan sejak sekitar 10 thn lalu oleh pemerintah karena didapati Komodo menjadi malas berburu dan kerjanya hanya tidur menunggu waktu pemberian makan. Pemandangan indah akan pulau Komodo kami dapat lihat dari salah satu puncak bukit, pulau komodo adalah pulau yang sangat besar, tentu saja akan sangat sulit untuk menjumpai Komodo apalagi di musim kawin ini. Sampai 2 jam berlalu kami pun tidak menjumpai komodo seekor pun, tapi kami sudah cukup senang karena selama 2 jam trek di dalam hutan Komodo ini kami melihat banyak keindahan alam, mulai dari binatang binatang liar sampai keindahan Pulau komodo yang hijau yang terbentang diatas laut.






Sebelum pulang kami menyinggahi rumah-rumah Ranger berharap dapat menemui jika ada komodo yang parkir disana. Ternyata betul, ada satu ekor Komodo yang sangat besar parkir disana menunggu diberi makan. Selama trek2 kami banyak mendapat kan informasi dari para ranger tentang apa yang mereka jumpai di hutan, tingkah laku Komodo, kami juga menjumpai kotoran komodo yang berwarna putih yang ternyata dari tulang belulang binatang yg terurai, tengkorak tengkorak binatang hasil buruan komodo, dan juga beberapa cerita seram tentang seorang pegawai yang digigit Komodo, beberapa korban dari kampung-kampung nelayan dsb.


Setelah keluar dari pulau Komodo tujuan terakhir kami adalah snorkeling di Pink Beach oleh para turis, dan Pantai merah oleh orang lokal, dinamai pink beach karena memang coral di pantai ini berwarna pink. Didalam laut pantai merah ini memang menyuguhkan pemandangan laut yang luar biasa indah, hamparan coral seperti karpet besar dengan bermacam-macam bentuk dan warna, ratusan ikan berwarna warni bersiaran di bawah kami, saya memang bukan termasuk yang sering snorkeling, tapi snorkeling di Pink beach merupakan pemandangan bawah laut yang paling indah yang pernah saya lihat!



Setelah snorkeling dan berenang - renang di air yang segar dan transparant bak akuarium, kami makan siang lagi diatas kapal, disuguhkan dengan hasil tangkapan semalam tentu nya, lalu kami harus kecewa karena perjalanan Komodo ini harus berakhir, ada sebersit rasa sedih berlayar dengan kecepatan cepat meninggalkan Pulau Komodo yang kemudian hilang perlahan-lahan.... Kami menuju Labuan Bajo, untuk meneruskan perjalanan berikutnya.