Sunday, February 10, 2013

LUANDA. Diantara gemerlap kota dan kemiskinan

Luanda, February 2013




Mobil Fortuner yang kami tumpangi bergoyang-goyang melalui jalan yang berlubang. Di dalam mobil yang didalamnya tercampur bau pewangi mobil rasa lemon dengan bau ketek yang menyengat dari pak supir berkulit hitam asal Angola, ku palingkan wajah ke arah jendela sambil hidungku mencari-cari udara yang tak berbau ketek.

Di luar jendela mobil aku menikmati pemandangan luar biasa yang belum pernah kulihat sebelumnya,  Luanda street. Menikmati pemandangan orang-orang yang berjualan dipinggir jalan. Mencari nafkah, sesuap nasi atau segumpal singkong (Mandioca) salah satu makanan utama mereka. Di sepanjang jalan aku menemukan street seller ada dimana-mana bahkan sampai ke tengah jalan berusaha mencegat mobil-mobil yang lewat. Seperti di persimpangan yang tak jauh dari komplek tempat kami tinggal ada penjual karpet yang menjual tiga buah kapet di gulung berwarna merah, hitam dan putih, dan selama satu setengah tahun tak laku-laku, sejak kami tiba di Luandasatu setengah tahun lalu, aku hanya melihat karpet yang itu-itu saja. Tak jauh dari situ ada beberapa penjual buah-buahan dengan ember-ember berisi pisang, nenas, singkong dan sebagainya. Lalu kami melewati penjual air mineral botol, penjual pulsa, sampai pewangi mobil.


Lalu berbelok menuju jalan Samba, yang di sepanjang jalan ini lebih ramai lagi penjual jalanan nya, ada segala macam barang-barang yang dijual, mulai dari makanan termasuk pisang bakar, sate babi sampai ayam goreng yang dimasak di pinggir jalan (dengan menggunakan bekas bagian dari kipas angin yang sudah rusak, kardus-kardus bekas , drum, dan minyak goreng hitam sehitam kulit mereka) sampai perabotan rumah tangga. Ada perempuan-perempuan menjual ikan-ikan yang sudah di ikat serangkai, ada perempuan yang membawa plastik-plastik berisi singkong mentah yang dipotong-potong kecil, enak kata supirku. Ada penjual tas-tas kerja, tissue rolls, ember, sapu, tenda camping, sepeda, sampai ke anak anjing.






 Penjual BH/Bra di pinggir jalan



 Cara menggendong bayi ala Afrika


Kemudian kami lewati jalanan yang sangat ramai dengan penjual jalanan, ada baju-baju loak yang di sebar di lantai, sepatu-sepatu, sayuran, buah-buahan, penjual telur rebus, tali sepatu dsb. Uniknya hampir semua perempuan Angola menggendong anak kecil, tampak nya perempuan Angola sangat sibuk di rumah dengan suami nya :) Cara menggendong bayi nya pun seperti layaknya cara menggendong anak di Afrika, dengan bayi berada di belakang dan kain panjang yang menahan bayi diikat kan ke dada depan sang ibu. Menurut teman ku yang asli dari Nigeria cara tersebut sangat baik karena sang bayi merasa sangat nyaman dan sang ibu bebas bergerak. Banyak juga aku lihat ibu-ibu disepanjang jalan menyusui anak nya, dengan mengeluarkan salah satu payudara nya keluar, keluar seluruh nya.








Kami juga melewati daerah Slums yang penuh dengan rumah-rumah miskin yang kotor dengan sampah meluap-luap dari mana-mana, ruma-rumah kotak terbuat dari bata, rumah yang banyak tak berpintu, yang hanya menggantungkan sehelai kain, rumah-rumah berdempet-dempet satu sama lain. Pemandangan yang unik juga sering aku lihat orang menjunjung ember-ember berisi air dikepalanya. Orang Angola tak punya air bersih, kata supirku yang bernama Joao, yang beliau sendiri pun tak punya air bersih di rumahnya. Jadi orang-orang lokal yang rata-rata miskin itu mencari-cari sumber air bersih atau bahkan membeli nya.


Kota Luanda yang cantik terlihat dari jauh, dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit nya kadang aku hampir tak percaya dengan apa yang barusan saja aku lewati di jalan tadi. Apalagi ketika kami melewati jalanan daerah Ilha, disebelah kiri persis di pinggir pantai terdapat pathway lebar dan panjang dengan pohon-pohon palem yang khusus dibuat untuk pejalan kaki, pelari, atau sekedar duduk-duduk, yang disebelah kanan jendel aku melihat air laut membentang dengan gedung-gedung tinggi sebagai latar belakang nya, persis seperti gambar-gambar kota di Amerika yang sering aku lihat di TV. Sungguh ironis, begitu kami melewati pemandangan horrible yang tak mengenakkan hati, sekarang aku melihat gedung-gedung tinggi.







Supirku, si Joao yang aku anggap sebagai informan paling terpercaya sedikit pintar berbahasa Inggris, malah tergolong sangat bagus bahasa Inggris nya mengingat jarangnya orang Angola yang mampu berbahasa Inggris. Dengan Joao banyak jalanan yang sudah aku lalui, sampai berjalan kaki di San Paolo di kota yang termasuk daerah berbahaya, dia selalu mengikuti aku dari belakang jika aku berjalan kaki, dia menganggap keselamatan ku pun adalah tanggung jawab nya. Senhor Joao sudah berpulang ke Ilahi, aku pun tak tahu persis apa penyebabnya, sepertinya TBC karena dia sering kali batuk-batuk. Tapi informasi lain aku dengar luka yang membusuk dikaki nya dan dokter tak bisa menyelamatkan nya. Aku sendiri tak pernah tahu kalau dia mempunyai luka dikaki. Ternyata mendengar kematian sudah biasa di negri ini, selama kami tinggal disini, sudah banyak sekali orang-orang yang kudengar bermatian, dari adik pembantu, anak tukang kebun, anak si anu dan istri si anu. Penyebabnya banyak, ada yang di sebabkan malaria, TBC, luka yang tak kunjung sembuh (50% orang Angola terkena Diabetes) dan banyak juga yang tak mengetahui kenapa meninggalnya, dan penyakit yang didiam-diamkan karena menganggap sepele dan tak adanya uang untuk biaya dokter, dsb.


Neighbourhood kami terkesan nyaman, indah dan tenang. Tetangga-tetangga kami selain para orang asing yang bekerja di Angola juga para penduduk lokal yang sangat kaya raya, terlihat dari harga rumah yang mereka tempati, sampai puluhan-puluhan milyar, terlihat juga dari merk-merk mobil mereka, Porche, Hummer, Lamborghini, you name it! Besar sekali perbedaan antara si kaya dan si miskin di negri ini. Jadi dibalik kenyamanan golongan kami yang minoritas ini, terdapat kaum mayoritas yang luar biasa banyak nya menderita. Dibalik Keindahan gedung-gedung kota luanda, terhampar rumah-rumah miskin yang kotor penuh sampah dan penyakit bagaikan karpet. Yang ironis lagi, dibalik kemiskinan mereka, orang-orang Angola adalah orang-orang yang fun, selalu bahagia, selalu tertawa, selalu menari, jadi kalau anda sedang berada di supermarket sampai jalanan, jangan kaget kalau melihat orang menari dari orang tua sampai anak bayi pun bisa menari, dengan atau tanpa musik. 

Aku selalu terhibur berada dijalanan di Luanda, seperti nonton TV rasa nya. 


Saturday, January 26, 2013

CABO LEDO - ANGOLA






Surfer Beach - Cabo Ledo


Mungkin tidak banyak turis yang akan datang ke tempat ini, ke negara ini. Tapi ini adalah satu dari beberapa tempat hiburan kami bagi para penduduk yang tinggal di Luanda - Angola. Saya sekeluarga sudah satu setengah tahun tinggal di Angola, Republik Angola adalah sebuah negara yang terletak di Afrika bagian barat daya, berbatasan dengan Namibia di bagian selatan, the Democratic Republic of the Congo di utara, dan Zambia di sebelah timur.
Cabo Ledo yang disebut dengan nama Portugis nya Praia do Cabo Ledo atau pantai Cabo Ledo, berada sekitar dua jam dari Luanda. Melewati Sungai Kwanza kami harus berhenti dan membeli tiket di loket persis seperti pintu masuk jalan tol. Setelah melewati perbatasan ini akan banyak kesempatan untuk polisi-polisi bokek Angola yang akan memberhentikan mobil-mobil yang lewat dan mencari-cari kesalahan pemilik mobil. Apalagi jika mobilnya lumayan mentereng, demi sesuap nasi polisi-polisi tersebut akan mencari-cari kesalahan sekecil-kecilnya. Siap-siap menyetor 10 atau 20 dollar jika kesalahan nya kecil, bahkan sampai ratusan dollar.  Kami sudah harus siap dengan dokumen-dokumen mobil dan juga tanda pengenal para penumpang mobil.







Disepanjang daerah Cabo Ledo terdapat resort-resort gaya Afrika, kamar-kamar bilik dengan kamar mandi yang di sewakan mulai dari harga $200 an sampai $400 an. Sangat mahal tapi harga yang normal untuk ukuran di negara ini.


Tak jauh dari resort-resort itu ada jalan tak berindikasi menuju pantai yang paling bagus dan terkenal. Dikenal dengan nama Surfer beach karena banyak nya para surfer disana, konon ombak nya sangat bagus untuk belajar surfing. Selain para surfer banyak juga ditemukan para camper disana. Pemandangan nya sangat indah dan luas, di depan pantai itu disewakan seperti payung-payung menyerupai atap yang terbuat dari ranting-ranting pohon, hanya membayar Kwz 500 ($5) jika kita memakai nya seharian. Pantai nya juga sangat bagus, landai, dan aman untuk anak-anak berenang, termasuk saya :)




Para surfer


Cabo ledo, selain surga untuk para surfers, juga surga untuk para campers, di pantai nya yang luas itu di temukan puluhan bahkan mencapai ratusan campers pada musim yang baik. Para campers tersebut sudah tahunan bolak balik camping di situ, jadi jangan khawatir dengan keamanan, kata mereka. Para amigos angolanos yang menyewakan payung-payung jerami tersebut juga sekaligus penjaga keamanan di pantai tersebut, mereka juga sambil mencari kerjaan seperti menjual kayu bakar untuk para campers memasak, juga membantu mengangkat-angkat barang-barang para pengunjung yang datang dan pergi, dengan upah sekitar 4 sampai 5 dollar. 




Pengunjung-pengunjung yang lain banyak juga yang datang pagi pulang sore, dengan menenteng portable barbecue, cooler minuman dan makanan, tikar, handuk, semua sudah cukup untuk menikmati waktu liburan. Biasanya begitu tiba kami akan membereskan tika dan barang-barang, lalu berenang menikmati segar nya air laut, ada yang bersantai-santai sambil ngobrol, ada yang membaca buku, pokoknya melepaskan kelelahan setelah dua jam berada di jalan menuju Cabo Ledo yang cukup jauh. Di sepanjang pantai akan di temui hampir semua pengunjung menyiapkan makan siang, ada yang membawa makanan siap makan, ada yang memanggang lobster, ikan, daging, ayam, dll. Seperti kami ini juga selalu datang dengan rombongan, jadi lauk-lauk yang antri untuk di panggang banyak nya bukan main.  Tak buruk bukan? Sepertinya, aku akan benar-benar merindukan tempat ini.


Friday, June 22, 2012

AQUILA Game Reserve - South Africa

Jika anda sedang berlibur di Capetown (Afika Selatan), dengan syarat masih ada sisa hari dan hampir semua tempat-tempat turis terbaik di Capetown sudah dikunjungi, dengan syarat lagi bahwa anda tidak sempat meluangkan 2 hari untuk pergi Safari ke Kruger Park, apalagi anda punya uang lebih untuk di buang-buang, maka boleh juga di perhitungkan tempat ini,  AQUILA Game Reserve.


The cottage


Luxury cottage


Aquila Game reserve ini adalah sebuah safari kecil-kecilan milik 

prifat di sebuah lahan sebesar 7500, lahan yang di kelilingi bukit-bukit layaknya di Afrika, dimana menyuguhkan pemandangan indah. Di Aquila Game reserve ini terdapat penginapan resort bermodel cottage. Membuat orang yang menginap merasakan keindahan alam Afrika dengan suguhan di otak bahwa mereka tidur di alam liar, dengan binatang-binatang liar disekitar nya, melainkan tidak sama sekali!

Aquila resort ini di kelilingi pagar berkawat dimana hewan-hewan yang hanya beberapa ekor saja itu tidak dapat masuk kedalam. Sebentar.... saya belum bercerita tentang hewan-hewan nya, mari bercerita tentang resort nya dulu. Resort ini mempunyai kamar-kamar yang luar biasa mahal, mempunyai restaurant dan kolam renang, cukup baik dan sangat bersih mengingat tempat ini memang jauh dari peradaban. Dalam satu cottage dapat memuat 2 sampai 4 orang, cottage-cottage yang katanya luxury karena saya sendiri belum pernah masuk jadi tidak tahu persis seperti apa didalamnya.





Untuk datang ke Aquila Safari ini anda harus membooking dulu sebelumnya, kami membooking lewat online, maka akan ada pilihan, apakah hanya safari saja, atau termasuk menginap. Kami memilih hanya safari paket saja, dimana paket tersebut sudah termasuk makan siang. Biaya untuk melakukan safari 4 jam dan makan siang ini untuk kami berempat, saya, suami dan anak-anak  sebesar $500 Amerika.

Perjalanan ke Aquila resort memakan waktu kira-kira 1.5 jam dari Capetown, untuk tiba disana jam 8 pagi, kami setidaknya harus sudah berangkat dari apartemen yang kami sewa jam 6 pagi. Sampai di resort ini yang resort nya berbentuk hut atau kubuh layaknya rumah-rumah khas Afrika, kami di beri refreshment drinks, ada minuman soda, juices, sampai sparkling wine dari South Africa.











Kami di beri waktu kira-kira setengah jam untuk istirahat dan menggunakan toilet sambil menimati keindahan resort. Kemudian ketika semua para tamu sudah berkumpul kami pun naik ke truk safari, pagi itu ada beberapa truk-truk yang penuh dengan pengunjung. Tidak pantas sebetulnya menyebut nya Safari, saya merasa dibohongi, buat Aquila ini cocoknya dinamakan Open air zoo. Lah wong binatang nya dikasih makan, ada pulak yang berkandang! Di salah satu lapangan ada sekelompok Rhyno atau kita sebut Badak bercula, yang sedang berjemur, semuanya tergeletak tidak bergerak, hanya bernafas saja.

Kemudian tak jauh dari situ ada kubangan air berisi beberapa Hyppo atau kuda nil yang sedang mandi. Kemudian truk melaju lagi ke area yg ada gajahnya, hanya ada dua ekor gajah afrika saja, itupun masih anak-anak, jadi ukurannya masih sama dengan gajah kita. Lalu truk tersebut berhenti untuk 'break' di satu area yang ada pohon-pohon disekitarnya jadi agak rindang, kami pun berhenti dan disuguhi lagi refreshment drinks. Setelah itu kami menuju ke arah lain dan melihat dari jauh dua ekor jerapah, saking jauhnya banyak orang yang tidak bisa melihat, saya saja yang sudah menggunakan lensa 300 mm masih susah dapat.

Di bawah ini adalah binatang-binatang (yang seharus nya hidup di alam liar) yang bisa anda lihat, Foto-foto zoom saya menggunakan lensa 300mm.



Dari sini kami menuju ke tempat dimana para Zebra ngumpul, ada juga burung ostrich dan kerbau, di tempat ini lah mereka diberi makan dengan tumpukan rumput segar. Jadi jelas saja zebranya gemuk-gemuk, wong dikasi makan! Kemudian kami meninggalakan area itu dan menuju area yang sedikit agak jauh dan dikelilingi pagar listrik!disitulah ada kandang singa, dan kami melihat 2 ekor singa jantan dan beberapa singa betina tergolek-golek, tidur, dan malas-malasan, disudut kadang saya melihat seonggok daging segar yang tak habis, kandang cheetah pun sama, para cheetah tertidyr pulas, sungguh kecewa melihat nya, ngapain jauh-jauh datang ke afrika, di taman safari juga saya bisa lihat yang beginian, semua binatang yang ada disini pemalas! Persis di kebun binatang, tergolek-golek dan tertidur! Lari saja mungkin mereka tak mampu.












Tentu saja penonton kecewa, kami membayar $500 untuk pergi ke kebun binatang, dan kembali ke resort untuk makan siang ala buffet, menu nya menu Afrika, terdiri dari beberapa jenis salad dan sayuran, nasi dan lauk pauk, dan rasa hmmmm, lumayan, tidak ada istimewa nya, apalagi jika sedang lapar dari melihat binatang selama 2 jam! Lebih enak lagi makan nasi padang! Kalo makan di warung padang sudah berapa kampung bisa diajak? Hahahahhah Jadi comment terakhir, Aquila ini sangat mahal dan tidak worth it!

Saturday, June 16, 2012

Sultanate of Oman (Kesultanan Oman)

Banyak pembicaraan seperti ini terjadi kepada penghuni kota Muscat - Oman.

"Sekarang tinggal dimana?'
"Muscat"
'What? Moscow?'
'No, Muscat in Oman'
'Amman?'
'...............



 Al Mughsayl Beach - Salalah - Dhofar (Oman)



Memang banyak yang tidak tahu tentang Muscat atau 
Oman. Saya saja tidak tahu Oman sampai saya betul-betul menginjak tanah nya. Harus diakui bahwa Oman adalah negara paling indah di Arab, paling hijau. Oman memiliki pantai-pantai yang indah, panjang dan berpasir putih, memiliki pemandangan spektakuler pegunungan-pegunungan batu raksasa, yang mengalir berliku-liku wadi-wadi (sungai-sungai) bagaikan ular diantara nya, wadi-wadi berair jernih transparant bagaikan kristal, padang pasir yang tak kalah dari padang pasir negara arab lainnya, kota Muscat yang kecil dan indah, aman dan ramah, membuat sulit untuk melupakan Oman jika sudah menginjak tanah nya.


Oman yang bernama resmi Kesultanan Oman dan dipimpin oleh seorang Sultan yang dicintai oleh rakyat Oman, Sultan Qaboos bin Said Al Said,  berbatasan darat dengan Uni Arab Emirat, Arab Saudi dan Yaman. Oman terletak di Pesisir Laut yaitu laut Arab di tenggara dan Teluk Oman di timur-laut. Bagian dari negara Oman juga yaitu Enklave Mahda dan Musandam dikelilingi oleh UEA di perbatasan daratnya, dengan Selat Hormuz dan Teluk Oman membentuk perbatasan pantai Musandam.




Muscat



Nizwa

Bahasa sehari-hari penduduk lokal adalah Arab tetapi bahasa Inggris dijumpai dimana-mana. Walau penduduk lokal 100% beragama Islam, Oman adalah salah satu negara Arab yang paling kuat toleransi beragamanya. Beberapa hotel bintang 5 pun dapat dijumpai di kota Muscat dan Salalah (1000km dari Oman dan berbatasan dengan Yaman). Club-club juga ada di setiap hotel-hotel, baik hotel berbintang maupun tidak.



Sawady Beach


Sunset at Shifa beach



Khareej (rain) season in Salalah






Oman adalah salah satu negara paling 
berkembang dan paling stabil di dunia Arab yang kaya dengan hasil minyaknya yang bertumpah ruah, bayangkan negara yang penduduk lokal nya hanya 2 juta orang saja dan sekitar 800.000 orang asing ini memiliki minyak yang meluap-luap dari dasar tanahnya. Tak heran jika di temui banyak konstruksi-konstruksi megah di negara ini.



Sultan Qaboos Grand Mosque - Muscat


Muttrah - Muscat



Al Bustan Palace


Walau iklim Oman sungguh tragis pada saat musim panas, dimana Juni adalah saat dimana Oman memiliki suhu paling panas hingga melebihi 50 derajat celcius, tapi musim dinginnya adalah bagaikan surga, saat Oman tak terlalu panas akan ditemukan semua penduduk Oman akan melakukan camping di wadi-wadi, terjun dan mandi di kolam-kolam Wadi yang transparant,  atau berenang dan sun bathing di pantai, atau sekedar piknik atau offroad di padang pasir nya, offroad di wadi-wadi sampai batuan terjal, menikmati sunset di pantai atau padang pasir sambil Barbeque.

Saya dan keluarga tiba di Oman bulan Desember 2010, dan detik, menit, jam dan hari-hari selama 2.5 tahun di Muscat terasa nikmat. Kenangan-kenangan tentang Oman yang seperti mimpi indah tak akan bisa terlupakan, berharap suatu hari nanti akan menginjak lagi tanah nya....





Wadi Bani Khalid



PDO beach

*Untuk membaca kisah-kisah tentang Oman lebih lanjut, silahkan klik kolom 'OMAN' di list negara2 di sebelah kanan.