Sunday, July 15, 2007

Welcome to Egypt!



Welcome to Egypt! Kata-kata yang pertama kali yang aku denger ketika yang pertama kalinya juga aku landed di Cairo. Dari pegawai imigrasinya, tukang2 angkat barangnya, sampai supir-supir taxinya ( sepertinya hanya kata-kata itu yang mereka paham dalam bahasa Inggris ). Aku sebetulnya kurang excited begitu pertama kali tahu akan hijrah ke Egypt. Sebelum pesawat landing aku sudah ngelongok2 ke jendela, dari atas aku melihat kebawah, lho? kok pasir semua?





Khan El Khalili - Cairo dari teras hotel kami


Kita tinggal di hotel Grand Hyatt selama seminggu ( sambil mencari-cari rumah ) yang posisinya persis dipinggir sungai Nil, waktu itu aku sedang hamil 2 bulan dan mengalami Morning Sickness, jadi begitu nyampe di hotel aku udah ngomel2 dengan baunya sungai Nil (suamiku bilang ngga ada bau apa2) tapi waktu itu kayaknya bau yang datang dr sungai Nil kuat banget. Namanya juga orang hamil, apa aja dibilang bau.

Ada sebuah phrase yang bilang "Mereka yang meminum air dari sungai Nil akan kembali lagi ke Mesir". Waktu itu aku dan teman-teman memang berniat tidak mau meminum air Nil karena kami tak akan pernah mau kembali lagi. I hate Egypt selama bulan pertama, dan aku bilang sama diriku kalo aku ngga akan mau kembali lagi ke Cairo selama-lamanya. Cairo itu kusam, kotor, messy, traffic, semua kata2 yang kurang enak didengar itulah Cairo :-). Aku benci dealing with Egyptian, sering kali aku mengumpat ketika bekerja sama dgn Egyptian. Hal yang sama dirasakan pada hampir semua foreigner di Cairo. Aku harus bilang setiap hari pada diriku bahwa suatu saat aku akan keluar dari situ, supaya aku tetap kuat melewati setiap bangun pagiku (setiap bangun pagi, aku sadar bahwa aku berada di Cairo). Bulan kedua dan ketiga aku masih merasakan hal yang sama.
Cairo adalah lokasiku yang pertama untuk tinggal di negara yang bukan Indonesia, jadi jelas saja pada waktu itu hatiku seperti memberontak, ngga betah, rindu kampung halaman, orang tua, teman-teman, rindu Jakarta, rindu Indonesia, apalagi makanannya.....


Hari demi hari tanpa kusadari aku menikmati keberadaanku di Cairo, area tempat tinggalku yang begitu hijau dan harmonis, aku mempunyai banyak sekali teman-teman yang membuat aku kuat, senang, tertawa, mereka membuat aku menyukuri keadaanku. Tanpa mereka aku ngga akan bisa menikmati every single day-ku di Cairo. Kita selalu bersama-sama, tiada hari tanpa mereka, aku tak pernah melewati 1 hari sendirian tanpa salah satu dari mereka. Teman datang dan pergi, teman-teman yang kusayang telah pergi, dan aku harus belajar untuk tidak marah pada keadaan, teman baru menggantikan posisi teman lama. Begitulah kehidupan kami di Cairo, kami menangisi kepergian teman kami, tapi kami akan menjadi kuat kembali dan kami beruntung punya banyak sekali teman di belahan dunia. Thanks friends....


Bulan demi bulan berlalu, musim berganti, Badai debu menerpa Cairo, tak kusadari aku telah jatuh cinta kepada Cairo yang banyak sekali orang menghujatnya. Aku belajar bahasanya, aku senang bertransaksi dengan mereka, aku bangga dengan peninggalan-peninggalan sejarahnya. Hampir semua tempat besejarah di Mesir telah kudatangi dan aku membuat keputusan untuk melahirkan anakku disana. Aku sangat mencintai Mesir. Setiap kali aku tiba di Bandara Udara di Cairo, diantara supir-supir taxi yang berkata "Welcome To Egypt" ( yang tadinya terdengar annoying ) aku mendengar hatiku berkata "Welcome Home"....



Di waktu bulan Ramadhan lampu-lampu Ramadhan seperti foto diatas akan dinyalakan dan di pasang di luar rumah, teras, halaman ataupun pohon-pohon di jalan, melambangkan betapa orang-orang Mesir begitu bahagia dengan datangnya bulan Ramadhan, pada malam hari jalanan disekitar rumah kami akan sangat indah dengan dihiasi lampu berwarna warni. Pada siang hari keadaan di jalanan akan menjadi kacau balau, orang-orang ingin cepat-cepat pulang dari kantor dan tiba di rumah sehingga pada waktu berbuka mereka tidak berada di jalanan. Akibatnya banyak terjadi macet, dan para orang-orang menjadi tidak sabar dan panik.

Mesir dianugerahi oleh Tuhan dengan sebuah sungai Nil nya yang terbentang di sepanjang tanah Mesir dan menjadikan tanah mereka menjadi subur, dari Cairo sampai Aswan. Mesir adalah sebuah negara yang sangat indah. Setiap tahun begitu banyaknya pelancong dari berbagai belahan dunia datang ke Mesir. Menikmati kebudayaannya, peninggalan-peninggalan sejarahnya, dan pemandangannya.




Saqqara Pyramid - Novie (my sis) & I in Giza




Dua tahun kami tinggal disana, banyak pelajaran yang kudapat, aku menyukai budaya Mesir, gaya hidup mereka, bahasanya, aku nencintai tanah mereka, Cairo sangat indah dengan padang pasirnya, dengan tata kotanya, tak perduli bagaimana orang mencemoohnya, aku menyukainya. Begitu banyak memory yang sampai sekarang tak bisa kulupakan. Aku tak pernah menyesal bahwa aku pernah ada di Cairo. Setiap kali kulihat kembali foto-foto selama aku di Cairo terkuak kerinduan yang dalam. Kalimat yang dikatakan orang itu HAMPIR benar tentang meminum air dari sungai Nil. Mungkin kau tak akan kembali ke tanah Mesir, tapi hati dan pikiranmu akan tetap selalu kembali ke Mesir....

2 comments:

Mochtar Han said...

sepakat mbak. akhir bulan depan saya akan tinggalkan mesir. benar. saya merasakan ketakutan yang dalam. jikalau suatu saat nanti tak bisa kemari, tapi walaupun akan demikian, saya tak khawatir, toh kalaupun tak bisa, saya akan mengunjunginya, sebagai puisi.

akan saya bawa pasir, saya taruh dalam botol, dan saya simpan di meja kamar, bahwa pasir ini memang benar-benar dirindui, dan akan membawa kembali.

kairo di puncak panas mbak. 4 hari terakhir cuaca diatas 35 derajat terus. angin mampet. badang penuh keringet. tapi nikmat, sebelum harus mengucap sayonara nanti.

Yully Sebayang said...

Kalo begitu berarti kuliahnya udah mau selesai ya? Sayangnya harus meninggalkan Mesir, ada seorang teman di KBRI yang udah 20 thn tinggal di Mesir, ngga mau keluar dr Mesir katanya.

Bawa foto2 yang bagus banyak2 deh mas, dulu aku blm begitu seneng motret, sekarang nyesel banget, foto kamu udh keren2 banget.